Home » Uncategorized » SISTesi, HYBRID LEARNING SMAN 1 SAJIRA (uji coba)

SISTesi, HYBRID LEARNING SMAN 1 SAJIRA (uji coba)

Hybrid learning adalah pendekatan model pendidikan yang menggabungkan pembelajaran online dengan pengajaran di ruang kelas nyata seperti waktu sekolah tatap muka pada umumnya.

Skema dan waktu pembelajaran di dalam dan di luar kelas diatur sedemikian rupa agar mendapatkan kelebihan dari masing-masing pembelajaran.

Pendidikan dengan menggunakan pendekatan online sudah barang tentu kita harus menguasai fitur fitur internet atau dalam bahasa yang lebih sederhana kita harus menguasai IT.

Digitalisasi pendidikan menjadi topik hangat yang banyak dibahas oleh publik pada beberapa bulan terakhir. Bukan tanpa sebab karena terjadi perubahan pelayanan pendidikan yang bisa dibilang sangat drastis.

Tak bisa dipungkiri kalau pandemi Covid-19 telah memaksa siswa, guru, dan sekolah harus melakukan aktivitas belajar mengajar dengan mengandalkan teknologi digital.

Sayangnya, masih banyak pihak yang merasa kesulitan untuk menjalankan kegiatan pembelajaran secara online.

Akan tetapi, sebenarnya siap atau tidak, digitalisasi pendidikan harus segera direalisasikan demi terlaksananya pendidikan 4.0.

Namun, pertanyaannya apa saja yang harus dipersiapkan oleh pihak sekolah untuk menyambut era baru dari dunia pendidikan ini?

Menyambut digitalisasi pendidikan di Indonesia

Keberhasilan program digitalisasi pendidikan Indonesia sangat bergantung pada kesiapan dari setiap aspek, baik lembaga maupun sumber daya manusianya. Khususnya dalam aspek infrastruktur pendidikan.

Secara umum, sudah ada tiga aspek yang setidaknya dapat dikatakan cukup baik dalam merespon pendidikan berbasis digital yakni, regulator, pengajar atau guru, dan siswa.

Pemerintah telah menyiapkan dan membahas roadmap sistem yang akan dipakai. Termasuk platform, kurikulum, dan kualifikasi yang dibutuhkan. Sedangkan guru dan siswa tidak diragukan lagi sudah cukup familiar dengan teknologi digital.

Persoalan utamanya adalah infrastruktur penunjang yang dibutuhkan untuk bisa menyelenggarakan digitalisasi pendidikan secara menyeluruh. Contohnya adalah lab komputer dan sistem informasi sekolah.

Hanya untuk laboratorium komputer saja, masih banyak sekolah yang kesulitan memenuhi standar dari Kemendikbud, yakni 30 buah per sekolah. Bahkan bila ada sekalipun, kualitas dari perangkat yang dipakai masih jauh dari standar yang dapat menunjang platform teknologi pendidikan.

Tidak hanya perangkat, sekolah wajib memiliki sistem informasi yang mumpuni agar bisa diakses dengan lancar selama 24/7 oleh siswa, guru, serta orang tua. Namun, mayoritas sekolah bahkan belum membangun website resmi atau sistem informasi sejenis.

Pada akhirnya, sekolah atau lembaga pendidikan di Indonesia harus terlebih dulu berpikir bagaimana cara untuk menyediakan infrastruktur pendidikan yang layak untuk platform digital, sebelum melangkah ke pembangunan sistem.

Peran digitalisasi pendidikan

Digitalisasi pendidikan adalah sebuah konsekuensi logis dari perubahan zaman. Tidak ada satupun pihak yang bisa memprediksi bahwa teknologi akan diadopsi begitu cepat oleh industri dan masyarakat.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul cukup banyak opini dan prediksi, baik dari akademisi maupun profesional mengenai pro kontra digitalisasi bidang pendidikan di Indonesia.

Beberapa pihak menganggap bahwa digitalisasi pendidikan akan berpotensi akan menimbulkan dampak buruk bagi kultur pendidikan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) siswa Indonesia.

Lalu, apa sebenarnya dampak yang akan ditimbulkan dari perubahan sistem yang konvensional ke arah digital di bidang pendidikan, khususnya terhadap industri 4.0? Berikut di antaranya:

1. Serapan tenaga kerja lebih besar

Kehadiran industri 4.0 nyatanya telah menimbulkan kekhawatiran banyak pihak, dan salah satu isu besarnya adalah PHK. Akan tetapi, masih ada pihak yang cukup optimis bahwa fenomena tersebut tidak akan terjadi.

Apapun itu, rasionalisasi terhadap biaya dan metode produksi sudah pasti terjadi dalam dunia industri. Pekerja yang dinilai tidak cocok mengisi satu posisi tentu tidak akan mendapat tempat.

Salah satu cara ampuh untuk menekan dampak tersebut adalah digitalisasi pendidikan. Selain menjadikan siswa cukup dekat dengan teknologi dalam industri, para siswa juga akan diberikan insight tentang kekhususan ilmu yang mereka minati.

2. Inovasi teknologi dalam industri

Sistem pendidikan digital akan lebih memberi ruang pada siswa untuk bisa berpikir kritis, serta merancang gagasan penyelesaian masalah. Hal ini tentu akan semakin meningkatkan jumlah invensi dan menumbuhkan para inventor muda baru.

3. Meningkatkan daya saing di tingkat global

Batasan wilayah negara tidak akan lagi berlaku secara penuh saat industri 4.0 mencapai puncaknya. Hasilnya, persaingan ketat antara profesional di seluruh dunia sudah dapat dipastikan akan terjadi.

Untuk meningkatkan daya saing pekerja dan profesional Indonesia, sudah tentu diperlukan sistem pendidikan yang lebih sesuai. Baik kultur ataupun keahlian yang perlu dipelajari.

Namun, hal tersebut tentu bukan perkara yang mudah. Soalnya, untuk mewujudkan pendidikan 4.0 yang optimal tentu membutuhkan dana yang cukup seperti memberikan pelatihan kepada para guru, menerapkan pembelajaran digital hingga mengembangkan infrastruktur sekolah.

Menurut pendapat Kepala Sekolah kita, Bapak Dedi Supriadi, SPd. bahwa digitalisasi dalam dunia pendidikan adalah sebuah keniscayaan, artinya tidak boleh tidak kita akan memasuki era tersebut.

Sebagai contoh, dahulu kita berbelanja ke Mall atau ke toko toko waralaba seperti mini market yang ada disekitar kita, kita tidak perlu lagi membawa uang cash, cukup dengan kartu debet atau kartu atm, Beberapa tahun yang lalu jika kita menggunakan jalan toll, selalu harus menyediakan uang cash untuk membayar jasa jalan toll, tapi kini cukup dengan uang elektronik, dahulu dalam pendataan kependudukan kita bisa doble kartu penduduk, tapi kini dengan proses digitalisasi atau yang kita kenal dengan sebutan KTP ELEKTRONIK, semua data kependudukan terkoneksi dengan data data lainnya, baik itu dengan data perbankan maupun dengan dinas dan instansi lainnya.

Sadar tidak sadar, dalam setiap pemberkasan kita sudah diharuskan mengupload berkas berkas dalam bentuk PDF, JPG, PNG, EXCEL dan lain-lain, dan semakin hari modernisasi pendataan maupun dalam mengakses data kita akan terus didorong untuk secara bertahap.

SMAN 1 Sajira menjadi salah satu sekolah di kabupaten Lebak yang diuji-cobakan sebuah aplikasi digitalisasi pendidikan.

SISTESI

merupakan software manajemen sekolah yang mampu mencatat history siswa (biodata, nilai, konseling, ekstrakulikuler, keuangan/SPP, pinjaman buku, presensi, dan lain lain) dari Siswa masuk hingga lulus atau keluar dari sekolah tersebut. Selain itu SISTesi dilengkapi dengan Sistem Ujian secara Online/ Paperless. SISTesi juga diintegrasikan dengan teknologi RFID dalam bentuk Kartu Pintar Multifungsi.

Hatur salam by AQUA


1 Komentar

Tinggalkan Balasan ke Tibetskie chashi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.